May 012012
 

Merasa sudah 6 bulan lebih kipas prosesor laptop tidak saya bersihkan, saya menyempatkan diri untuk membersihkannya. Setelah dibongkar, seperti dugaan saya, kipasnya sangat berdebu. Lihat saja foto-foto berikut. Bandingkan juga dengan foto setelah kipasnya saya bersihkan. ^_^

Unfortunately, saya sempat melakukan kebodohan saat mengembalikan kipas ke posisinya semula. Saya lupa menghubungkan kembali kabel kipasnya ke mainboard. Alhasil, setelah saya pakai sekitar 1 jam, laptop mati tiba-tiba. Ketika saya mencoba menghidupkannya kembali, laptop tidak merespons. It made me panic.

Setelah mencoba berpikir tenang, akhirnya mendapat ide untuk mengecek kembali yang sebelumnya dibongkar. Alhamdulillah, ketemu penyebabnya: kabelnya lupa dicolokkan kembali. Tampaknya, si laptop mati tiba-tiba karena mengalami overheat. Ngeri juga sebenernya, karena alasan saya (berusaha) rutin membersihkan kipas prosesor (dan GPU) adalah untuk menghindari overheat yang dapat menyebabkan kerusakan prosesor atau GPU. Mainboard yang terpasang ini pun adalah mainboard pengganti karena yang sebelumnya rusak bagian GPU-nya, diduga disebabkan overheat, meski juga diduga karena ada cacat produksi.

 Posted by at 2:16 AM
Feb 262012
 

Apabila karena suatu alasan Anda perlu membatasi penggunaan bandwidth –misalnya saat Anda ingin menggunakan aplikasi P2P– dan kebetulan Anda menggunakan sistem operasi Ubuntu, Anda dapat menggunakan wondershaper.

Lakukan instalasi:

sudo apt-get install wondershaper

Cek antarmuka jaringan mana yang digunakan:

ifconfig

Batasi konsumsi bandwidth-nya dengan menjalankan wondershaper disertai parameter-parameter yang dibutuhkannya:

sudo wondershaper [interface] [downlink] [uplink]

Contohnya:

sudo wondershaper eth0 8096 512

Sebagai catatan, batas kecepatan downlink dan uplink dinyatakan dalam kilobits per second (kbps). Jadi, dalam contoh di atas, kecepatan downlink dibatasi pada 8192 kbps = 1024 kBps. Sedangkan, kecepatan uplink dibatasi pada 512 kbps = 64 kBps.

Saat Anda sudah tidak membutuhkannya, hapus pembatasan kecepatan tersebut:

sudo wondershaper clear eth0

Simpel kan? :)

 Posted by at 11:44 PM
Jan 072012
 

Okayama, 25 Desember 2011

Okayama Castle (Okayama-jō) is a Japanese castle in the city of Okayama in Okayama Prefecture in Japan. The main tower was completed in 1597, destroyed in 1945 and replicated in concrete in 1966. Two of the watch towers survived the bombing of 1945 and are now listed by the national Agency for Cultural Affairs as Important Cultural Properties .

In stark contrast to the white “Egret Castle” of neighboring Himeji, Okayama Castle has a black exterior, earning it the nickname Crow Castle (U-jō). (The black castle of Matsumoto in Nagano is also known as “Crow Castle”, but it is karasu-jo in Japanese.)

Today, only a few parts of Okayama Castle’s roof (including the fish-shaped-gargoyles) are gilded in gold, but prior to the Battle of Sekigahara the main keep also featured gilded roof tiles, earning it the nickname Golden Crow Castle (Kin U-jō).

(cited from: Wikipedia)

Jan 042012
 

Rupanya tahun telah berganti.. Malam pergantian tahun saya habiskan di Masjid Asakusa, Tokyo. Alhamdulillah malah sempat ikut kajian di sana. Meski, sebelumnya menyempatkan diri menengok keramaian malam pergantian tahun di Shibuya, Shinjuku, dan Tokyo Tower. Sebenernya keberadaan saya di Tokyo merupakan bagian dari perjalanan saya jalan-jalan “keliling” Jepang memanfaatkan libur musim dingin. Semoga saya sempat (dan ingat) mengunggah beberapa foto yang saya ambil selama perjalanan.

Tahun sebelumnya, mungkin saya menghabiskan malam pergantian di kamar kos saya di Bandung mengerjakan (atau sekedar memikirkan) tesis yang saat itu mendekati deadline, ditemani secangkir kopi. Now, I’m here, in Japan.. Banyak yang terjadi di tahun 2011. It’s a wonderful year for me.. And, I hope it will get better this year.. :)

Bottom line, happy new year 2012!

 Posted by at 10:01 PM
Dec 042011
 

Katanya sih masih musim gugur, dalam arti musim dingin aja belum masuk, tapi kalau pagi dan malam temperatur sudah mencapai satu digit. Siang hari aja temperatur di kisaran 10-an derajat. Apalagi, angin di Toyohashi relatif kencang. Jadi, temperatur yang dirasain badan jadi lebih rendah daripada yang disebutkan oleh prakiraan cuaca. Akibatnya, saya jadi males keluar, maunya di ruangan aja, entah itu di kamar atau di lab. Paling enak sih ngendon di lab. Hangat karena pake heater dan gak perlu mikir tagihannya. Hehehe..

*Sekarang aja kedinginan kaya gini.. Gimana kalo udah musim dingin ya..? -_-’

 Posted by at 10:48 PM
Nov 272011
 

Saya punya nama baru di sini: ALI. :D

Pada dasarnya, orang Jepang melafalkan fonem /r/ seperti fonem /l/. Jadilah nama panggilan saya, yang kalau dengan Katakana dituliskan sebagai ???, dilafalkan menjadi Ali. Setidaknya di telinga saya, yang mengenal fonem /r/ dan /l/, terdengar seperti itu.

Tambah panjang lagi deh daftar nama panggilan saya.. Hehehe..

 Posted by at 9:52 PM
Nov 052011
 

Awalnya bingung harus diapain tu mesin cuci. Ada sih petunjuk penggunaannya, tapi dalam bahasa Jepang semua.. -_-’ Akhirnya coba-coba deh, masukin baju kotornya, masukin deterjen, tutup, trus masukin koin  ¥100. Ee, langsung jalan dia.. Tinggal nunggu berhenti aja deh.. Hehehe..

(dari tulisan ini)

Setelah nanya tutor, yang waktu itu kebetulan mampir ke kamar, ternyata prosedur penggunaan mesin cuci yang saya tulis di atas kurang tepat. Gak salah lho.. Tapi, kurang tepat. Kurang tepatnya karena saya melewatkan satu step yang seharusnya dilakukan, yaitu membersihkan tub-nya.

So, prosedur yang betul adalah: (1) masukin koin; (2) pencet tombol untuk membersihkan tub; (3) tunggu sampai blinking indicator pembersihan tub nggak kedip-kedip lagi; (4) masukin pakaian kotor dan deterjen; (5) nunggu sampe beres. :D

Saya kemarin kan pakai asumsi kalau tub-nya bersih.. *ngeles.. :p

Antarmuka penggunanya gak intuitif nih.. *ngeles lagi.. :p

 Posted by at 10:59 PM
Oct 162011
 

Sabtu, 15 Oktober 2011, saya dan Ray diajak Nova dan Tiwi ke depan Toyohashi Eki untuk nonton Toyohashi Matsuri. Saat kami sampai, matsuri telah dimulai. Ratusan, mungkin ribuan, orang sudah memadati jalan di depan stasiun Toyohashi ini. Sebagian besar turut menari di jalan, sebagian lainnya menonton di trotoar. Masyarakat dari berbagai umur, dari anak-anak, muda-mudi, sampai lansia, ambil bagian dalam kegiatan yang dilaksanakan pada malam hari ini. Saya berusaha mengabadikannya, tapi sayangnya kualitas hasilnya sangat buruk karena pocket camera menjadi sangat buruk performanya dalam kondisi pencahayaan yang minim. (Tampaknya perlu upgrade kamera.. DSLR? Hehehe..)

Setelah nonton “Toyohashi Matsuri”, jadi ingat “Solo Menari 24 Jam” yang diselenggarakan April lalu. If you like “Toyohashi Matsuri”, you’ll definitely love “Solo Menari 24 Jam”. :)

 Posted by at 11:25 PM